Chapter 2: Kuchisake Onna (Wanita Bermulut Robek)
Kalau kamu sedang sendiri di jalanan sepi yang bahkan tidak kamu kenali, ketika kamu melihat siluet seorang wanita muda memakai mantel panjang dan masker yang menutup mulutnya. Berhati-hatilah saat ia mendekatimu dan bertanya “Apakah aku cantik?”, maka saat itu hidupmu tergantung pada jawabanmu.
Aku melihat jam tanganku untuk memastikan sudah berapa lama Ai bercerita, ternyata sudah hampir dua puluh menit. “Hei, Yuzu-chan! Apakah kau mendengar ceritaku??”, “Ah, ah… Iya.” Padahal yang kudengar hanyalah pacarku selingkuh dengan wanita yang lebih tua dariku! Setelah itu aku tidak lagi memperhatikannya. Hari ini aku pulang bersama Ai karena ia memintaku untuk ikut dengannya. Untuk apa? Untuk memata-matai kekasihnya yang ia anggap selingkuh. Sebenarnya aku tidak keberatan untuk menemaninya melakukan apapun, tapi—demi Tuhan—Kalau Ai sudah cerita, aku tidak akan bisa menghentikannya. Saat aku hendak mengeluarkan ponsel dari saku rok-ku, aku melihat sekelebat bayangan hitam masuk ke salah satu gang di depanku. “Ai-chan, apa kau melihat yang tadi?” aku menunjuk kearah gang arah bayangan itu pergi. “Ah? Tidak, aku tidak melihat apa-apa.”, “Tapi aku yakin tadi ada sesuatu yang berjalan ke sana.”, lalu Ai tampak sedang berpikir. Tiba-tiba ia menjentikkan jarinya, “Jangan-jangan yang yang kau lihat itu….. kuchisake-onna!” sambil menunjuk kearahku. Satu-satunya cerita Ai yang aku suka adalah cerita tentang hal-hal gaib yang terjadi di sekitar kami, berkat kuping Ai yang tajam akan gosip baru, maka kami tidak usah repot-repot mencari informasi. Akhirnya aku dan Ai gagal menemukan apa yang kami cari, aku melambaikan tangan pada Ai di perempatan dan aku langsung mengayuh sepedaku agar cepat sampai di rumah.
“Yuzu-chaaaaaan~ okaeri!—selamat datang!” Ibuku langsung memelukku saat aku baru saja melangkahkan satu kaki ke dalam rumah. “Aaaah, Yuzu-chan… Ibu rindu padamuu!”, “Ibu… Ibu hanya pergi ke rumah nenek selama 4 hari, kenapa rasanya seperti tidak ketemu selama 4 tahun?” aku melepaskan scarf dari leherku. “Jadi Yuzu-chan tidak rindu padaku?”, “Tidak.” Aku berjalan ke dapur, “Yuzu-chan zankokunaa—kejamnyaa”. Aku menengok kearah ibu, “Tentu saja aku rindu ibu.” Lalu langsung naik ke kamarku. “Yuzu-chan, makan malam sebentar lagi siap ya. Ah, bicara tentang nenek, nenek memberikan sesuatu padamu.” Ibu terlihat mencari-cari sesuatu dari dalam tasnya, lalu akhirnya ia mengeluarkan kotak berwarna coklat yang diikat oleh tali merah. “Apa ini?” aku menerima kotak tersebut sambil memperkirakan apa isinya, “Ibu tidak tahu. Nenek hanya memberikannya padaku begitu saja.”, “Hm, baiklah. Terima kasih”. Saat membuka pintu kamarku, adik perempuanku—Riza—sedang duduk di atas tempa tidurku, “Ri~za~ Apa yang kau lakukan di kamarku??”, “Eh? Oneesan—kakak—sudah pulang rupanya…” lalu ia turun dari tempat tidurku sambil membawa buku yang sedang ia baca. Saat kulihat judulnya, Cara menerapkan kutukan kepada mahluk hidup, “HYAAAAAAA! Apa-apaan bacaanmu itu?!” aku jadi merinding setelah membaca judulnya. “Oh? Ini? Yaa… Memang sulit dijelaskan.” Riza melihat bukunya dengan tatapan kosong, terkadang aku jadi takut sendiri melihat tingkah laku adikku. “Riza, kenapa kau tidak mencoba seperti gadis pada umumnya?” kataku sambil menepuk kepalanya, “…. Oneesan tidak seperti gadis pada umumnya, kan? Jadi supaya bukan oneesan saja yang dianggap aneh…” aku tertegun saat mendengar jawaban dari Riza, lalu ia kembali ke kamarnya. Ternyata Riza sangat memperhatikanku, “Riza, arigatou ne—terima kasih ya”.
“Waaah! Untuk apa kau membawa barang seperti itu? Ternyata diam-diam Yuzu-chan…” saat aku menoleh untuk melihat siapa yang bicara, ternyata Will Hancov, eh, tunggu dulu ‘Yuzu-chan’? “Dasar tidak tahu malu! Belum dekat dengan orang, sudah memanggil nama kecil! Lagi pula ini bukan buat merokok, tahu!” tiba-tiba saja aku merasa lelah berhadapan dengan orang ini. “Memangnya tidak boleh ya? Yuzu-chan?” “Uhhh~ Terserahmu sajalah!” aku berjalan keluar kelas, tapi kenapa aku merasa malu sendiri dipanggil ‘Yuzu-chan’ olehnya? Saat aku sedang berjalan melewati gerbang sekolah, tiba-tiba seseorang memanggilku, “Tunggu dulu, YUZU-CHAAAAAAAAN~” orang ini sengaja membuatku kesal. Kesal sekali sampai ingin mencekiknya. “SUDAH KUBILANG JANGAN SEENAKNYA PANGGIL AKU YU—” Will menggiring sepedanya berlari-lari kecil ke arahku. “Hancov-kun, tidak biasanya kau naik sepeda.” Lalu Will tersenyum lebar, “Supaya aku bisa pulang denganMU, Yuzu-CHAN!” aku meninggalkannya di gerbang sekolah tanpa menoleh lagi, dari jauh terdengar suara Will berteriak padaku “Yuzu-chaaan! Baik, baik, aku tidak akan membuatmu kesal lagi!”.
Akhirnya aku membiarkan Will berjalan di sebelahku, ia berjalan sambil bersiul gembira. Tiba-tiba aku melihat sekelebat bayangan perempuan yang kemarin aku lihat, “Hancov-kun. Apa kau lihat itu?” “Yuzu-chan, panggil Will saja…” lalu Will melihat ke arah yang kutunjuk, ia mengangguk. Semakin lama bayangan itu semakin mendekati aku dan Will, hari sudah semakin gelap. Saking paniknya, kakiku tidak bisa berlari. Lalu bayangan itu muncul tepat di depan kami, menampakkan sosok seorang wanita muda berambut hitam panjang, memakai mantel panjang, dan mengenakan masker penutup mulut yang biasa dipakai dokter bedah. Kuchisake Onna, aku berbisik pada diriku. Aku melirik ke arah Will yang pandangannya sudah terpaku pada sosok di depan kami. Wanita itu mempunyai mata merah yang mengerikan, dan jari dengan kuku-kuku tajam. Celurit! Di tangan kanannya ada celurit! Dia mau membunuh kami! Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan suara, “Apakah aku cantik?”. Will agak tersentak ketika mendengar suaranya, lalu ia memberanikan diri untuk tersenyum. “Ya, Ya… Cantik kok. Anda cantik sekali, nona.”, lalu wanita itu membuka penutup mulutnya, terlihatlah sebuah luka robek dari ujung mulutnya sampai telinga, memperlihatkan rahangnya yang mengerikan, “Bagaimana kalau begini?! Hyahahahahahaha” Wanita itu tertawa sambil mengangkat celuritnya. “Ca, cantik juga kok…” Will menjawab lagi sambil melangkah mundur, “Ha, Hancov-kun, kurasa bukan itu jawabannya.” Aku menggenggam lengan kiri Will sambil menariknya mundur. “Cantik? AKAN KUBUAT KALIAN BEGINI! Hyahahahaha” kami mengayuh sepeda sekencang-kencangnya, sampai pada sebuah perempatan, tiba-tiba sepeda Will kehilangan keseimbangan dan menabrak sepedaku. Aku dan Will sama-sama terjatuh dari sepeda, Will menarik tanganku untuk berdiri “Ma, maaf. Kau tidak apa-apa?”, “I, iya aku—“ di belakang Will muncul wanita itu, sudah akan menebas kepala Will. “Waaaaaaaa!” aku berteriak kencang saat wanita itu menebaskan celuritnya, tiba-tiba pematik yang kudapatkan dari nenek jatuh dari kantong rokku dan menyala dengan sendirinya. Saat aku membuka mata, wanita didepanku terbakar api lalu menghilang bagai ditelan bumi. Will tergeletak tidak jauh di depanku, aku panik dan menggoyangkan tubuhnya. “Will-kun! Will-kun!” tiba-tiba ia menggenggam pergelangan tangan kananku, “Akhirnya kau memanggilku Will. Hehe” Aku sudah bersusah payah menahan supaya tidak menangis, ternyata yang ia bicarakan hanya itu! “Aku pulang!” aku cepat-cepat berdiri dan menaiki sepedaku. “Yuzu-chan! Maafkan aku! Terima kasih telah menghawatirkanku! Yuzu-chaaan jangan tinggalkan akuu!”. Aku menatap pematik yang diberikan nenek padaku, di salah satu sisinya tertera huruf ‘Y’. Sepertinya itu inisial nenekku, Yuka. Sama seperti inisial namaku. Aku yakin pematik ini yang menyelamatkanku, apa memang nenek tahu bahwa aku akan terjebak dalam situasi seperti ini? Apa memang benar pematik ini mempunyai kekuatan khusus?
The End